Alasan Masuk(in) Pesantren

 

Dalam sebuah pertemuan ibu-ibu Majelis Taklim, ada 2 orang ibu-ibu yang bersebelahan sedang asyik dalam bercengkerama sambil menikmati hidangan. Sebut saja Ibu Ari (A) dan Ibu Berry (B) bukan nama sebenarnya.

Ibu A : Jeng, anak pertama ibu jarang kelihatan, sekolah dimana sekarang?

Ibu B : Anu Bu, Si Ibnu saya masukin pesantren.

Ibu A : Kenapa di masukin pesantren, salah apa anak Ibu, kok mesti harus dihukum sampai jauh dari orang tua?

Ibu B : Iya Bu, bukan dihukum, cuma saya pernah mendengar seorang ustadz dalam ceramahnya berpesan, jadikanlah diantara anak kalian ada yang faham dalam agama, minimal satu anak. Karena boleh jadi anak ini yang akan menyelamatkan orang tuanya di akhirat.

Ibu A : Jeng, tapi kan pesantren apa bisa bersaing dengan sekolah umum?

Ibu B : Wah, ibu sepertinya mulai sekarang harus update informasi pesantren nih. Pesantren sekarang beda sama pesantren dulu. Dulu pesantren tempat buangan, kalau nakal biasa solusinya ke pesantren. Tapi sekarang lain loh Bu. Masuk pesantren sekarang harus seleksi. Bahkan ada yang saingan sangat ketat. Karena peminatnya banyak. Prestasinya juga gak kalah dengan sekolah umum. Beberapa pesantren malah sering juara.

Ibu A: Terus kenapa Ibnu memilih masuk pesantren X?

Ibu B: Kalau saya sih simpel saja, Bu. Kita kan berdua suami isteri semua bekerja. Gak bakalan bisa mengawasi pergaulan anak yang sudah mulai ABG. Kebetulan saya sangat kenal sama ustadznya, saya titipkan sama beliau. Sehingga kontrolnya juga mudah. Disamping itu, teman sekelas Ibnu juga ada yang masuk situ. Kloplah. Kemauan anak dan keinginan orang tua sama.

Ibu A: Bukankah pesantren X masih baru, pastinya kan belum terakreditasi?

Ibu B: Kalau saya, lihat visi misinya, kalau sejalan tidak mengapa pesantren baru. Justru itu banyak keuntungan loh kalau masih baru. Pertama: para asatidz sangat konsentrasi pada mutu karena masih mencari santri. Kedua, fasilitas masih minim, tapi hasil dari sumber daya alam yang biasanya untuk santri. Justru disini pendidikan yang sangat baik bagi santri, karena tahu proses awal apa yang sedang dinikmati. Ketiga, keakraban santri dan ustadznya sangat kental karena santrinya masih dapat dihitung. Keempat: keakraban dan kekeluargaan wali santri sangat erat. Gotong royong, jiwa sosialnya sangat terasa biasanya. Kalau Ibnu sih senang saja, karena menurut pendapatnya angkatan awal-awal pastinya tidak ada plonco atau bulan.

Ibu A:Jeng, itu alamat pesantrennya dimana ya, kok saya jadi kesengsem sama pesantren. Nanti Eko saya masukin pesantren sajalah, supaya jadi Kyai, siapa tahu nurunin kakeknya.

Ibu B: Gak jauh kok, cuma 20 km dari Serang. Untuk jelasnya informasi, ada website juga kok. Klik aja www.ics.sch.id.

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *