Anasir Kesuksesan Pendidikan System Boarding atau Pesantren


Sejak akhir semester ganjil yang lalu (2016), beberapa Pesantren atau Boarding School sudah ramai membuka pendaftaran dan seleksi Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB). Padahal semester ganjil belum selesai. Dengan demikian pada awal atau pertengahan semester genap sudah mendapat kepastian akan melanjutkan sekolah mana yang dituju.

Pesantren atau Boarding School sangat berbeda dengan system pendidikan biasa atau full day school. Ada banyak faktor yang mendukung suksesnya system Boarding School atau pesantren.

Namun, sebelum bicara faktor kesuksesan, perlu tahu lebih dahulu apa ukuran atau indikator dari kesuksesan system pendidikan. Ada yang bilang bahwa kesuksesan yang dimaksud adalah ketika lulusannya yang masuk sekolah negeri, atau masuk sekolah di luar negeri, atau hafal sekian juz, atau bisa ceramah agama, atau banyak prestasi dan lain sebagainya. Sebagai ukuran terbaik sebuah lembaga sukses atau tidak adalah visi dan misi dari lembaga tersebut. Sehingga output dibandingkan dengan visi misi, maka disitulah bisa dievaluasi, sukses atau tidaknya sebuah lembaga.

Dengan pengalaman hampir 2 tahun dan mengamati berbagai lembaga pendidikan boarding school atau pesantren, paling tidak ada 5 faktor yang menjadi penunjang utama.

Pertama: Lembaga Yang Kuat.

Yang dimaksud disini adalah lembaga yang mempunyai visi yang ingin dicapai, yang diejawantahkan dalam misi yang terukur.
Lembaga menjadi tempat perumusan kebijakan dan system operating prosedur (sop) yang ingin diterapkan. Keputusan strategis terkait arah dan kebijakan, ditelorkan dari lembaga yang menaunginya.

Kedua: Sumber Daya Insani Yang Mumpuni

Utamanya guru atau ustadz yang siap menerjemahkan visi misi lembaga. Guru yang penyabar, ulet dan siap menjadi teladan 24 jam bagi santrinya, disamping mempunyai kapasitas sesuai dengan disiplin ilmu, sangat diperlukan di pesantren. Karena tugas guru tidak hanya mengajar, tetapi juga mendidik. Sehingga perlu diluruskan, istilah tahun pelajaran. Kita punya Menteri Pendidikan. Kita punya Hari Pendidikan, tapi masih pakai Tahun Pelajaran bukan Tahun Pendidikan.

Orang bisa sukses mengajar, tapi belum tentu sukses mendidik. Karena itu dibutuhkan guru atau ustadz pesantren yang siap selama 24 jam, mendidik dan mengawasi para santrinya.

Bila gurunya kreatif, kurangnya sarana dan prasarana menjadi tantangan tersendiri untuk mencipta sesuai dengan sarana yang ada. Hasilnya bisa jauh lebih baik dibandingkan dengan sarana yang tersedia melalui pabrikan.

Sumber daya insani, juga mengambil peranan penting dalam menjaga lingkungan pesantren tetap kondusif. Suasana menghafal, club bahasa, ekstra kurikuler, karya ilmiah, sholat berjamaah, bangun malam, dan sebagainya, peranan ustadz musyrif atau wali asrama, sangat diperlukan.

Ketiga: Kurikulum Yang Terukur

Kurikulum menjadi penting karena proses ada disini. Kalau dibandingkan antara 2 hasil yang sama, tetapi dengan perjuangan yang berbeda, maka nilai yang tertanam dalam santri atau siswa pun berbeda. Tentu hasil dengan usaha yang lebih keras, akan membawa kepuasan tersendiri.

Bicara kurikulum adalah masalah konten atau isi dari proses belajar mengajar. Boleh jadi judul sama tapi muatannya berbeda, maka akan menghasilkan pemahaman yang berbeda. Sehingga sangatlah wajar bila melihat hasil dari sebuah alumni, langsung tertuju dengan kurikulum yang diterapkan di sekolah tersebut. Misalnya alumni pesantren A mahir di robotic, alumni sekolah B fahamnya lebih toleran, alumni pesantren C menganut mazhab bla bla bla, dan lain sebagainya.

Begitu juga bila terjadi kasus, terutama menyangkut akhlak, biasanya orang menghubungkan dari sebuah alumni. Kadang untuk pembenaran atas premis yang sudah tertanam di benak masyarakat. Walaupun sebenarnya tidaklah tepat. Misalnya Si A tertangkap KPK karena korupsi. “Oo pantas alumni sekolah X sih.. ” begitu seloroh masyarakat.

Keempat: Input Santri Yang Baik

Yang dimaksud input santri disini adalah semakin banyak santri yang diterima, semakin mudah sekolah itu untuk merealisasikan visi misinya. Semakin banyak peminat atas sekolah, maka akan semakin mudah memilih untuk mendekatkan input yang tersedia dengan tujuan visi misinya. Dengan demikian, secara logika grafik pesantren yang sudah maju akan semakin melesat dengan prestasi nya. Sementara dengan pesantren baru, harus bertahan untuk eksis.

Berdasarkan informasi diterima terdapat sebuah pesantren yang telah melakukan seleksi, perbandingan antara kuota yang tersedia dengan peminat 1 : 60. Dengan demikian, pesantren dapat menyaring yang terbaik diantara 60 anak peminat.

Bila ada lembaga baru dengan santri yang sedikit, tetapi mempunyai prestasi yang menyamai dengan lembaga yang sudah lama eksis, merupakan bentuk kesuksesan yang luar biasa.

Kelima: Sarana Penunjang Yang Memadai

Faktor yang lain yang turut mensukseskan pendidikan system pesantren atau boarding adalah sarana infrastruktur seperti yg ruang kelas, kantor, asrama dan sarana penunjang lainnya seperti laboratorium, tempat olah raga, perpustakaan, dapur, kantin dan lain-lain.

Di pesantren, santri untuk keluar sangat dibatasi, maka hobi sebisa mungkin agar dapat terfasilitasi di dalam pesantren agar mudah pengawasannya.

Wallahu a’lam.

KH Sudarman Ibnu Murtadho , Lc
Pengasuh Pesantren Terpadu Insan Cita Serang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *