BERHIJRAH ATAU MENYESAL (Sebuah Refleksi Tahun Baru Hijriah)

Tidak ada yang bisa memungkiri bahwa waktu berlalu begitu cepat. Seperti tak terasa sudah setahun berjalan. Ditambah lagi memang waktu yang sudah kita lalui itu juga tidak akan pernah bisa diulang sedikit-pun. Sekarang bahkan kita telah tiba di Tahun baru, Tahun baru Islam, kita sekarang sudah memasuki tahun 1439 Hijriyah. Berbeda dengan tahun baru Masehi, tahun baru Islam tidaklah diperingati dengan kembang api, terompet, dan pesta pora yang kurang bermanfaat dan membuang-buang waktu dan uang saja. Tetapi lebih banyak diisi dengan muhasabah (introspeksi diri).

Di antara pergantian waktu dalam penanggalan Islam tersebut, ada satu hal yang harus selalu kita ingat, yaitu esensi dari tahun baru Islam itu sendiri, Hijrah. Ya hijrah, itulah pokok dari itu semua.

Makna Hijrah

Paling tidak ada 2 pengertian umum Hijrah, Hijrah Makaniyah (hijrah tempat) dan Hijrah Maknawiyah (Hijrah Secara Maknawi). Hijrah tempat yang dimaksud adalah sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Ar-Raghib Al-Asfahani adalah keluar dari negeri kafir kepada negeri iman, sebagaimana para sahabat yang berhijrah dari Makkah ke Madinah.

Sayid Muhammad Rasyid Ridha [Lihat Tafsirul Manar 5/359] mengatakan bahwa Hijrah di Jalan Allah itu harus dengan sebenar-benarnya. Artinya, maksud orang yang berhijrah dari negerinya itu adalah untuk mendapatkan ridha Allah dengan menegakkan agama-Nya yang ia merupakan kewajiban baginya, dan merupakan sesuatu yang dicintai Allah, juga untuk menolong saudara-saudaranya yang beriman dari permusuhan orang-orang kafir.

Adapun Hijrah secara Maknawiyah adalah Perpindahan (hijrah) dari sesuatu yang buruk menuju sesuatu yang baik, dari jahiliyah menuju keislaman, dari kekufuran menuju keimanan, dari kesyirikan menuju tauhid, dari kebathilan menuju haq, dari kemaksiatan menuju ketaatan, dari keharaman menuju kehalalan. Dalam konteks kekinian, maka lebih banyak yang harus berhijrah secara maknawi. Karena itulah permasalahan bangsa kita saat ini.

Refleksi diri

Tentu telah banyak peristiwa, banyak kejadian, banyak kenangan yang seharusnya dapat kita gunakan sebagai bahan pelajaran. Baik itu peristiwa dalam skala pribadi, skala keluarga masyarakat, bangsa, negara dan bahkan dunia.

Begitu juga persoalan, baik persoalan ekonomi, sosial, hukum, politik atau yang lainnya. Kita semua seharusnya bisa mengambil pelajaran. Pada awal tahun baru hijriah ini adalah waktu yang tepat untuk melakukan instrospeksi dan refleksi diri, agar kita inshaf atas semua yang telah kita lakukan selama ini. Berapa kebaikan yang sudah kita lakukan serta berapa keburukan yang kita perbuat.

Lakukan refleksi diri secara adil dan jujur atas semua yang sudah kita lakukan, jangan berusaha untuk melakukan pembenaran atas kesalahan yang telah kita perbuat. Berada pada titik 0 (nol) adalah yang paling tepat. Evaluasi kekurangan yang harus kita benahi, serta kebaikan yang harus dipertahankan bahkan untuk ditingkatkan di masa yang akan datang.

Mulailah Ber-Hijrah

Berubah menuju kebaikan, atau yang sering kita sebut dengan hijrah, bukanlah sesuatu yang mudah di tengah era keterbukaan seperti sekarang ini. Tarikan menuju keburukan terasa seakan lebih kuat dibandingkan tarikan menuju kebaikan. Jalan menuju maksiat seakan lebih indah dibandingkan jalan menuju ketaatan. Hambatan dan rintangan menuju kebaikan seakan sangat berat dan besar untuk dilalui dibandingkan arah menuju keburukan yang seakan lancar dan bebas hambatan.
Apalagi ketakutan-ketakutan yang menghantui kita ketika akan ber-hijrah, takut inilah, takut itulah, banyak ketakutan-ketakutan, padahal ketakutan-ketakutan yang kita pikirkan itu lebih sering tidak terjadi. Karena memang syaithon tidak akan pernah berhenti menggoda, berusaha menggagalkan setiap usaha kita untuk berubah menjadi lebih baik.

Mulailah selangkah demi selangkah untuk berhijrah. Jangan berhenti, selagi masih ada waktu. Selagi kita masih bisa bernafas. Selagi kita masih bisa mendengar.

Dari Muadz bin Jabal Ra bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda: “Tidaklah bergeming kedua kaki anak Adam pada hari kiamat dari hadapan Tuhannya hingga ditanya tentang lima hal: tentang umurnya dimana digunakan, masa mudanya dimana dihabiskan, hartanya dari mana didapatkan dan kemana dibelanjakan, dan apa yang dikerjakan dengan ilmunya.” (HR. at Tirmidzi yang dihasankan oleh al Albani).

Kalau berhenti, ingatlah ayat berikut ini: “Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya: “Dalam keadaan bagaimana kamu ini?”. Mereka menjawab: “Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah)”. Para malaikat berkata: “Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?”. Orang-orang itu tempatnya neraka Jahanam, dan Jahanam itu seburuk-buruk tempat kembali” (Qs.An-Nisa:97)

Jika kita ragu untuk berhijrah, tataplah masa depan dengan optimis. Yakinkan diri kita akan janji Allah Azza Wa Jalla kepada ummat-Nya yang berhijrah. Percayakan saja pada Dzat yg Maha Pemberi Rizki, Rizki dari Ilahi tidak melulu soal materi, masih diberikan waktu bertaubat dan perubahan untuk memperbaiki diri, itulah Rizki terbesar yang Allah anugrahkan, dan tak mampu terbayarkan dengan limpahan materi.

“Barang siapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak. Barang siapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Qs.An-Nisa:100)

Dan camkanlah bahwa hakikat hijrah (perubahan) itulah adalah Cinta. Cinta Allah Azza Wa Jalla kepada kita dengan waktu yang masih diberikan-Nya untuk berubah menjadi lebih baik.

Berubahlah, Berhijrah-lah, Sebelum menyesal.

 

Ditulis Oleh Ustadz Feby Arma Putra

(Pengajar SMPIT Insan Cita Serang)

 

Sumber gambar: imgrum.org dengan penyesuaian

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *