Tangga Dan Sandarannya

Alat bantu untuk meraih sesuatu yang tidak terjangkau baik karena benda yang hendak kita raih terlalu tinggi atau sebab lainnya, terbuat dari 2 batang bambu atau bahan lain lengkap dengan potongan kecil yang mengikat keduanya. Itulah tangga.

Tangga membutuhkan dinding sebagai sandaran agar dapat tegak dan sukses dalam mencapai apa yang hendak diraihnya.

Begitu pula kita manusia layaknya struktur tangga, ada bapak, ibu, dan anak-anak. Walaupun memang tidak seutuhnya sama, karena kita manusia itu hidup, punya cita-cita besar, dan bergerak, tidak diam seperti benda mati.

Fiddun’ya hasanah wafil akhiroti hasanah adalah cita-cita besar setiap individu manusia, dan mempunyai anak sholih yad’u lahu (mendoakan kedua orang tuanya) adalah salahsatu cara untuk meraih keduanya.

Tentu butuh banyak ikhtiar dan pengorbanan yang harus disiapkan seperti; waktu, perhatian, biaya pendidikan, dll.

Menyiapkan waktu bersama anak-anak untuk belajar Al-qur’an, menghafal, dan mengamalkannya.

Bersama anak-anak pergi ke mesjid agar mereka dapat istiqomah melaksanakan sholat berjamaah 5 waktu beserta sunnahnya, kemudian harus meluangkan untuk mendengarkan curahan hati mereka di sisa waktu setelah baru saja kita pulang dari pekerjaan yang melelahkan.

Memang waktu terasa sangat sedikit dibandingkan banyaknya agenda dan tanggung jawab yang harus kita selesaikan.

Pesantren merupakan salah satu sandaran agar cita-cita besar itu tercapai, karena di dalamnya ada orangtua seperti kita, yaitu musyrif/ah.

Mereka disiapkan untuk diberikan tanggung jawab besar yaitu menjadi pendidik, pembina dan sekaligus menggantikan peran orangtua yang selalu mengasihi anak-anaknya baik dalam kondisi sakit, sedih, maupun bahagia.

Jika kita saat ini sudah berbagi waktu dan tanggung jawab dengan musyrif/ah, ustadz/ah, dan kyai di pesantren, maka kasih sayang kepada anak-anak jangan pernah kita kurangi dan bagi sedikitpun dengan apapun.

Sikap manja, caper, cool, dan perubahan lainnya yang ditunjukan anak-anak adalah bentuk kebanggaan karena mereka dapat tumbuh mandiri, dan sekaligus bentuk kecemasannya karena merasa sudah mulai ditinggal masa kecilnya dahulu yang penuh dengan canda tawa peluk hangat bersama keluarga, adik kakak, abi umi atau ayah bundanya.

Jika ada kesempatan, kita peluk erat mereka dengan penuh kasih sayang.

Jika waktu itu belum ada, kita do’akan agar mereka menjadi anak sholih yad’u lahu. Amin..

Allahu a’lam

Gunungsari, Serang-Banten.
Senin, 27 Februari  2017

Abdul AAziz Al-Khusyairi, S. Pd. I

Kepala SMPIT ICS Boarding School

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *